sweet ya #bukaninstagram

sweet ya #bukaninstagram

1 month ago
0 notes

itumblrb:

Seperti inilah generasi kami, dengan beberapa perubahan pada detilnya, tetapi secara garis besar sama :)

nice..jadi inget sama pinsil yang isinya ada banyak itu, sekarang masih ada yang jual ga ya..

1 month ago
10 notes

Tidak - pejalanjauh-

– bersandar kepada mungkin

Jika air dipanaskan, ia memuai. Jika air didinginkan, ia menjadi es. Tetapi, tidak setiap dusta jadi dosa. Dan, tidak setiap tangis jadi derita. Ada sekian banyak keniscayaan. Tapi, tidak kalah banyak pula ketidakpastian.

Hidup adalah serentetan gelombang kejut yang kadang kala tak sepenuhnya bisa kita mengerti tapi pasti tak bisa kita elakkan. Kita tak akan mampu memprediksi secara presisi apa yang akan terjadi esok hari.

Jika hidup seumpama buku, kita hanya tahu persis isi halaman yang sudah kita baca dan tak akan pernah mampu menebak secara presisi halaman berikutnya sampai kita sendiri usai membacanya.

Sewaktu Sydney Sheldon hampir saja menenggak berbelas-belas pil tidur untuk mengakhiri hidupnya, jauh sebelum ia menjadi penulis best-seller, ayahnya datang memergokinya dan mengajak ia berjalan-jalan. Di sebuah tikungan, ayah Sydney Sheldon yang seorang salesman itu berujar dengan ringkas:

“Kalau kau benar-benar ingin bunuh diri, Sydney, aku mengerti. Tapi aku tidak suka melihatmu terburu-buru menutup bukumu dan melewatkan kesenangan yang mungkin terjadi padamu di halaman selanjutnya –halaman yang akan kau tulis.”

Dan begitulah. Sydney Sheldon memutuskan menunda rencana bunuh diri yang sudah ia persiapkan dengan matang. Kita tahu Sydney Sheldon kemudian banyak melahirkan novel-novel yang menjadi best-seller. Tapi hari itu, Sydney pastilah tak tahu –mungkin tak yakin—bahwa nasibnya akan segemilang ini.

Karena tidak setiap derita panjang hari ini sudah pasti jadi derita pula di esok hari, setidaknya seperti kata Sutardji:

JADI

tidak setiap derita

jadi luka

tidak setiap sepi

jadi duri

tidak setiap tanda

jadi makna

tidak setiap tanya

jadi ragu

tidak setiap jawab

jadi sebab

tidak setiap seru

jadi mau

tidak setiap tangan

jadi pegang

tidak setiap luka

jadi kaca

memandang Kau

pada wajahku!

Tidak perlu kita berpikir njlimet dengan merujuk dekonstruksi Derrida yang memajang papan pengumuman sedang berambisi membongkar oposisi-biner dalam semua teks filsafat Barat untuk memahami ini.

Cukuplah saya katakan: sajak itu, sehemat saya, amat pantas menjadi kawan tiap kali kita sedang dilamun pesimise yang paling menggidikkan atau sewaktu sedang dibuai optimisme yang paling memabukkan.

Pesimisme dan optimisme sejajar dalam satu hal: keduanya berangkat dari satu perhitungan bahwa ada hal-ihwal yang sudah bisa kita ramal/prediksi akan sungguh terjadi. Bedanya, pesimisme melihat ramalan/prediksi itu dengan cara yang muram dan durja, sementara optimisme menempatkan ramalan/prediksi itu dalam suasana yang terang dan penuh keyakinan.

Karena tidak setiap derita menjadi luka dan karena tidak setiap sepi jadi duri, mengapa kita mesti pesimis? Karena tidak setiap jawab jadi sebab dan tidak setiap kabar jadi tahu, kenapa kita harus optimis?

Sekali lagi, jika hidup seumpama buku, hari ini adalah halaman yang sedang kita baca, hari kemarin adalah halaman yang sudah terlewat dan hari esok adalah halaman berikutnya yang belum kita baca.

Tapi, jika perumpamaan hidup sebagai buku itu bisa diterima, saya lebih percaya buku yang jadi perumpamaan itu semestinya adalah buku puisi, dan bukan prosa.

Puisi menjadi hidup karena ambivalensi maknanya dapat ditarik ke titik yang yang satu atau ke titik yang lain, dari ujung yang satu hingga ujung yang lainnya lagi. Dari satu sajak yang sama, tiap orang dalam keadaan yang amat berbeda dan bahkan bertentangan, dapat memeroleh makna yang cocok dan relevan untuk situasi masing-masing. Denotasi bahasa prosa yang (relatif) tunggal-makna, ditranformasi menjadi konotasi bahasa yang poli-makna.

Sebuah puisi hanya bisa dimengeri dengan memadai jika kita sudah usai membaca keseluruhannya, itu pun kadang kurang cukup, karena masih dibutuhkan pembacaan berulang-ulang, dengan tingkat resepsi yang terkadang pula mesti kian ditinggikan.

Kita urai dan cecap makna dari satu larik ke larik berikutnya, dari satu bait ke bait berikutnya. Kita tak akan pernah tahu kejutan apa yang akan diberikan pada larik atau bait berikutnya. Dan, terkadang, begitu kita tiba di ujung sebuah puisi, bangunan pengertian dan makna yang sudah kita anyam pelan-pelan dari hasil pembacaan sedari kata pertama bisa jadi harus dicairkan kembali, dirombak lagi untuk kemudian kita bangun susunan pengertian baru yang bisa jadi jauh beda dengan sebelumnya.

Karena tidak setiap seru jadi mau dan tidak setiap tanda jadi makna, kenapa tidak kita jalani saja hidup ini? Mengapa tidak kita hadapi suspense atau kejutan yang akan diberikan hidup esok hari?

Menggetarkan tentu saja menunggu sesuatu dengan penuh cemas, menanti sesuatu yang tak sepenuhnya mampu kita kira-kira apa itu bentuknya. Tapi kita memang tak bisa berharap terlalu banyak pada misterium hari depan, selain menikmati saja setiap debar di setiap penantiannya.

Karena kita memang hanya bersandar pada angin, kata sebuah sajak yang lain

1 month ago
0 notes
Cerita @imanbr tentang mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin

DARI KITA OLEH KITA DAN UNTUK KITA: UJI KIR ATAU UJI UANG?

Bus maut sumber kencono, Karunia bakti dan sekelebatan metro mini di  

hadapan saya yang lewat tanpa lampu rem mengingatkan pengalaman beberapa 

tahun lalu ketika diri ini masih jadi pengusaha kelas pinggiran yang 

penasaran mengapa sebuah Pick Up kecil saya yang di pergunakan sehari hari 

untuk mengangkut benda ringan macam Styrofoam harus menjalani uji petik 

atau KIR dengan biaya yang semestinya tertera Rp 48 ribu rupiah namun 

kenyataannya supir saya selalu meminta uang sejumlah Rp 160 ribu untuk 

setiap enam bulan uji KIR.

Read More

3 months ago
0 notes
Jika suatu tempat terlalu banyak polisi, tidak ada kebebasan di sana. Jika di tempat itu terlalu banyak tentara, di situ tidak ada perdamaian. Jika di tempat itu terlalu banyak pengacara, berarti tidak ada keadilan di sana.

LYN YUTANG (1895–1976), penulis profil asal China

3 months ago
0 notes

copas dari fb teman

Cerita ini terjadi di kota New York pada pertengahan 1930an ketika AS mengalami depresi ekonomi. Saat itu hari amat dingin. Di seluruh penjuru kota, orang-orang miskin nyaris kelaparan.

Di suatu ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk menyimak tuntutan terhadap seorang wanita yang dituduh mencuri septong roti. Wanita itu berdalih bahwa anak perempuannya sakit, cucunya kelaparan, dan karena suaminya telah meninggalkan dirinya.Tetap saja penjaga toko yang rotinya dicuri menolak untuk membatalkan tuntutan. Ia memaksa bahwa wanita itu harus dihukum untuk menjadi contoh bagi yang lainnya.

Hakim itu menghela nafasnya. Sebenarnya ia enggan menghakimi wanita ini. Tetapi ia tidak punya pilihan lain. “Maafkan saya,” katanya sambil memandang wanita itu.

“Saya tidak bisa membuat pengecualian. Hukum adalah hukum, jadi Anda harus dihukum.Saya mendenda kamu sepuluh dolar, dan jika kamu tidak mampu membayarnya maka kamu harus masuk penjara sepuluh hari.”

Wanita itu tertunduk, hatinya remuk. Tanpa disadarinya, sang hakim mencopot topinya, mengambil uang sepuluh dolar dari dompetnya, dan meletakkan uang itu dalam topinya. Ia berkata kepada hadirin.

“Saya juga mendenda masing-masing orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar lima puluh sen karena tinggal dan hidup di kota ini dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk menyelamatkan cucunya dari kelaparan. Tuan Bailiff, tolong kumpulkan dendanya dalam topi ini lalu berikan kepada terdakwa.”

Akhir cerita, wanita itu meninggalkan ruang sidang sambil mengantongi empat puluh tujuh dolar dan lima puluh sen, termasuk di dalamnya lima puluh sen yang dibayarkan oleh penjaga toko yang malu karena telah menuntutnya. Tepuk tangan meriah dari kumpulan penjahat kecil, polisi New York , dan staf pengadilan yang berada dalam ruangan sidang mengiringi kepergian wanita itu.

Itu cerita lama dan terjadi di negri orang , tapi setidaknya itulah cita2 kita semua , moral kita yang menjadi impian kita semua..

4 months ago
2 notes
Kebahagiaan adalah ketika apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda katakan, dan apa yang Anda lakukan berada dalam sebuah harmoni.
MAHATMA GANDHI (1869–1948) Pemimpin Spiritual India
1 month ago
2 notes

Gadjah Mada dan Muhammad Yamin

SAYA suka membaca analisis sejarah yang membongkar macam-macam mitos dalam propaganda negara Indonesia. Misalnya, G.J. Resink, guru besar hukum internasional Universitas Indonesia, meruntuhkan mitos Belanda “menjajah Indonesia” selama 350 tahun.

Dia menulis antologi Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850-1920. Dia menulis bahwa secara legal berbagai kerajaan dan raja di kepulauan ini, dari Sumatera hingga Sunda Kecil, banyak yang masih berdaulat hingga 1920. Istilah “350 tahun” tersebut hanya “mitos politik belaka” yang tak bisa bertahan melawan ujian kebenaran sejarah.

G.J. Resink menulis, “Implikasi dari mitos Belanda bercokol 350 tahun itu adalah bahwa begitu pelaut dan pedagang avonturir Cornelis de Houtman mendarat di Banten, dengan serta merta kepulauan Indonesia jatuh di bawah kekuasaannya.” De Houtman mendarat di Banten pada 1596. Dia diperkirakan orang Eropa pertama yang mendaratkan kaki di Pulau Jawa. Kalau angka 1945 —proklamasi kemerdekaan Indonesia— dikurangi 1596, hasilnya adalah 349 tahun (setahun kurang 350 tahun). 

Tan Malaka termasuk orang yang sering memakai angka “350 tahun” tersebut. Saya pernah baca paper Tan Malaka terbitan 1920an sudah sebut angka 350. 

Asvi Warman Adam dalam buku Seabad Kontroversi Sejarahmenulis bahwa salah satu orang yang banyak menciptakan “sejarah yang bercorak nasional” alias propaganda adalah Muhammad Yamin.

Yamin seorang sarjana hukum kelahiran Sawah Lunto tahun 1903. Dia sekolah di Jogjakarta dan menikah dengan Sri Sundari, putri bangsawan Solo, pada 1937. Dia mengarang buku macam-macam, campuran antara fakta dan fiksi, termasuk 6000 Tahun Sang Merah-Putihmaupun sandiwara Gadjah Mada sertaKen Arok dan Ken Dedes. Celakanya, Yamin juga jadi Menteri Pendidikan pada awal 1950an. Dia bikin macam-macam pembenaran soal “sejarah nasional.” Cerita-cerita fiksi ini lantas masuk pelajaran sekolah.

Bayangkan 6,000 tahun! Artinya, Indonesia lebih tua dari kebudayaan Mesir.

Daoed Joesoef, menteri pendidikan pada 1970an, mengingatkan saya bahwa saking semangat Yamin bahkan membuat gambar Gadjah Mada berdasarkan “sebuah celengan” yang ditemukan dalam situs Majapahit di dekat Gunung Lawu. Celengan tersebut diklaim Yamin sebagai wajah Gadjah Mada. Belakangan ketika orang diminta menggambarkan wajah Gadjah Mada, tentu saja, celengan tersebut tak bisa dipakai. Maka dipakailah wajah pengarang sandiwara Gadjah Mada. “Celengan kan gendut. Pipi Yamin kan tembem,” kata Daoed.

Benedict Anderson dalam buku klasik Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944-1946 menulis bahwa tak ada satu orang pun yang bisa mengontrol Yamin. Orang ini keras kepala, sembarangan, menjengkelkan dan dibiarkan saja semau sendiri. Zaman itu tak ada yang peduli soal campur aduk fakta dan fiksi. Ia dianggap tak sepenting soal revolusi melawan Belanda. Yamin menerbitkan sandiwara Gadjah Mada pada 1946.

Sejarahwan Jean Gelman Taylor menulis satu bab “Majapahit Visions: Sukarno and Suharto in the Indonesian Histories” dalam buku Indonesia: Peoples and Histories. Bab ini khusus membandingkan Majapahit versi arkeologi dan Majapahit versi propaganda. Dari sudut arkeologi, Taylor menerangkan bahwa Majapahit sebuah kerajaan kecil di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Rezim Sukarno dan Suharto berkepentingan membuat mitos Majapahit sebagai kerajaan besar guna mendukung agenda mereka masing-masing: nation building daneconomic development. Mereka memakai apa yang diletakkan Yamin soal Gadjah Mada untuk kepentingan propaganda masing-masing rezim.

Hasilnya, macam-macam pikiran Yamin masuk dalam pelajaran sejarah di sekolah maupun berbagai propaganda lain. Indonesia dijajah Belanda 350 tahun. Ada patih Gadjah Mada dari kerajaan Majapahit bikin Sumpah Palapa. Nenek moyang selama 6,000 tahun. Saya sering geli baca macam-macam propaganda ini. Karya fiksi masuk dalam pelajaran sejarah.
Sayangnya, banyak warga negara Indonesia percaya. Artinya, kepercayaan terhadap makna negara Indonesia tak diletakkan pada fondasi kebenaran faktual. Dasar negara ini diletakkan pada tumpukan fiksi. Geli tapi juga sedih.

1 month ago
0 notes

BBM dan Bushido

Sunday, 18 March 2012

Waktu masih duduk di SD dan SMP di kota kecil Tegal di Jawa Tengah, saya sudah mengenal barang- barang impor dari Jepang seperti kamera dan jam tangan yang modelnya persis buatan Jerman.

Saya lupa merek Jermannya karena sudah lama sekali (mungkin Rollei,Canon, atau Leica),tetapi yang buatan Jepang tidak mencantumkan merek itu. Jadi kalau ada kamera atau arloji model Jerman, tanpa merek Jerman, pasti kamera atau arloji Jepang dan laris seperti gado-gado lontong karena harganya murah walaupun kualitasnya sekali-pakai-buang (padahal zaman sekarang malah semua serba-sekali-pakai buang, bukan hanya kamera, tetapi juga bolpoin sampai tisu, malah lawan main seks juga).

Read More

2 months ago
0 notes
wow chirpstory yg gw buat kemaren sudah di view 1062 kali, di likes 30 org dan di tweet 92 kali.. 
http://chirpstory.com/li/5007

wow chirpstory yg gw buat kemaren sudah di view 1062 kali, di likes 30 org dan di tweet 92 kali.. 

http://chirpstory.com/li/5007

2 months ago
0 notes
Anda tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang Anda katakan, tapi juga atas apa yang tidak Anda katakan.
MARTIN LUTHER (1483–1546), agamawan dan tokoh reformasi Jerman
2 months ago
1 note

MASIH ADAKAH SOAL TENTANG TUHAN?

John Lennon (Penyanyi) : Saat interview dgn American Magazine, ia berkata “agama akn berakhir & hilang. Saya tdk perlu menjelaskannya. Tuhan sih OK, namun pengajaranNya terlalu sederhana. Hari ini kami jauh lebih tenar dariNya” (1966). Stlh mengatakan itu, John tewas ditembak penggemarnya.

Tancredo Neves (Presiden Brazil) : Selagi kampanye, ia berkata bila mendapat 500.000 suara dr anggota partainya, mk tdk ada yg dpt mendepakny dr posisi presiden, BAHKAN TUHAN SENDIRI. Ia mndpt lbh dr 500.000suara, tp SEHARI sblm peresmian jabatanny, ia sakit & mati.

Cazuza (Artis Brazil) Dlm penampilanny di Rio de Janeiro, smbl menghisap cerutu, ia mengebulkan asapny ke udara smbl berkata : “Tuhan, ini untukMu”. Pd umur 32, ia meninggal krn kanker paru dlm kondisi yg mengerikan.

Marilyn Monroe (Artis USA) Ia dikunjungi Billy Graham stlh memimpin sebuah KKR, yg mengatakan bhw Roh Allah mengirimny utk menyampaikan sesuatu. Stlh mendengarkan apa yg disampaikan Billy Graham, ia berkata “Maaf, aku tidak memerlukan TUHAN mu”. Seminggu kmdn Marilyn ditemukan tewas di apartemenya.

Jaman Orde Lama (Indonesia 1965) Saat itu LEKRA onderbow PKI mengadakan pementasan drama berjudul “Patine Gusti Allah”. Pementasan tersebut berjalan lancar sampai pada akhir sang aktor yang memerankan “Gusti Allah” diceritakan mati diatas panggung tersebut. Tidak ada satupun yang memberitakan bahwa pemeran aktor tersebut benar benar mati diatas panggung sama seperti cerita yang dilakoninya.

Bon Scott (Ex vocalis AC/DC) Dlm slh satu lagu di albumnya (1979), ia mengatakan “jgn hentikan aku. Aku sdg asyik berjalan ke neraka”. Pd 19 feb 1980, Bon ditemukan tewas krn TERSEDAK oleh MUNTAHNYA sendiri.

Campinas (2005) Sekelompok anak muda yg mabuk menjemput seorg gadis, temn mrk, yg ditemani ibunya hingga msk ke mobil. Saking kuatirny, Sang Ibu berkata “Tuhan besertamu, putriku.” Putriny menjawab, “boleh saja, ASALKAN IA DUDUK DI BAGASI. Krn disini sdh penuh!” Bbrp jam kmdn dikabarkan mobil tsb mengalami kecelakaan fatal. Rusak parah dan bentuknya tak dpt dikenali lagi. Anehnya, BAGASINYA TETAP UTUH, bahkan ternyata sekotak telur didlmnya tak ada satupun yg pecah..

Titanic (1912) Pembuat Titanic sangat percaya akan kemegahan dan kekuatan kapal ini sampai berkata “Bahkan Tuhan tidak sanggup menenggelamkannya”. Pada pelayaran pertamanya, kapal ini tenggelam setelah menabrak iceberg.

Jangan pernah kita meremehkan TUHAN apalagi melecahkanNYA dgn UCAPAN KITA, dengan SUMPAH KITA Apalagi ucapan DEMI TUHAN dibuat sbg MAINAN…! Atw kita merasa bebas melakukan apapun krn mengganggap TUHAN tdk mengawasi kita…:(

Sumber : Grup fb Alumni Sipil UI

3 months ago
8 notes
progress 7/2/12 22:02

progress 7/2/12 22:02

3 months ago
0 notes